Jakarta - Muda, cantik, smart dan passionate akan
profesinya, begitulah deskripsi singkat yang bisa ditarik dari ketiga
sosok ini. Mereka pun telah menyadari kecintaan akan profesi ini dari
usia yang masih begitu dini. Nurmalita Malik dari Lubis Ganie
Surowidjojo, Shinta Nurfauzia Husni dari Lubis Santosa & Maramis dan
Ria Lusiana dari Adnan Buyung Nasution & Partners, ketiganya
menekuni profesi pengacara dari usia yang begitu muda.
Lita yang
kini telah memasuki tahun ke-5 sebagai pengacara, pernah menjadi lulusan
terbaik di Fakultas Hukum Trisakti dan telah mengantongi gelar Master.
Kesukaannya akan dunia hukum makin terasah dengan segala aktivitas
senat, pengaturan organisasi hingga membuat undang-undang, jelasnya
sambil bernostalgia akan masa kuliah.
Dengan memilih pengacara
sebagai profesi, Lita merasakan lebih banyak keuntungan dalam menghadapi
hidup. Ia merasa jadi orang yang lebih bertahan dalam segala situasi,
kritis dalam menghadapi sebuah permasalahan, hingga kemampuan komunikasi
publik yang semakin terasah.
Terdengar ekstrem, tapi Shinta yang
memasuki Fakultas Hukum Universitas Indonesia di tahun 2006 dan kini
berpofesi sebagai Junior Associate menyadari kesukaannya akan dunia
debat hukum sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Setelah kurang
lebih dua tahun menjalani profesinya, ia menyadari bahwa apa yang ia
pelajari di sekolah sangatlah berbeda pengaplikasiannya dengan yang ada
di lapangan.
"Salah satu yang membuat dunia pengacara semakin
menantang adalah kita selalu disajikan oleh hal-hal baru setiap harinya.
Aku juga tidak melulu mengambil kasus klien berbayar. Dengan mengambil
kasus pro bono (tak berbayar), aku merasa bisa banyak bantu orang," ujar
wanita berusia 24 tahun ini menambahkan.
Beda halnya dengan Ria,
meskipun usianya baru 23 tahun, passionnya terhadap profesi pengacara
telah berkembang sedemikian besar. Ia bahkan sudah memiliki target untuk
memiliki firma hukum sendiri maupun dengan mitra.
Lulusan
Universitas Gajah Mada tahun 2010 ini kini memfokuskan diri pada lingkup
litigasi komersil dan arbitrase internasional. Hobinya mengikuti debat
dan organisasi selama masa kuliah dulu diakuinya sangat membantu dalam
menjalani profesinya saat ini. Selain mental yang semakin tertempa, ia
pun terus belajar untuk menguatkan segala argumen yang disampaikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar