Jakarta, Bayi adalah masa di mana seseorang menjadi
makhluk paling imut dan menggemaskan. Tapi adakalanya setiap orang
berbeda dalam melihat tingkat keimutan seorang bayi. Penyebabnya
ternyata bukan masalah selera atau sentimen, melainkan karena perbedaan
kadar hormon.
Sebuah percobaan dilakukan untuk mengetahui
kepekaan seseorang terhadap tingkat keimutan bayi. Hasilnya menemukan
bahwa wanita menjelang menopause memiliki sensitifitas yang paling
tinggi terhadap keimutan bayi dibanding wanita pada usia lainnya.
Para
peneliti di University of St Andrews di Skotlandia menguji seberapa
baikkah orang-orang dalam menentukan keimutan bayi. Peserta pnelitian
diberikan 4 set wajah bayi yang hampir sama dan telah diotak-atik oleh
software komputer. Wajah bayi sedikit dimodifikasi untuk mengetahui ciri
khas mana yang lebih imut dan mana yang kurang imut. Para peserta
kemudian diminta memilih manakah di antara keempat foto tersebut yang
lebih imut.
Hasilnya menemukan bahwa wanita usia 19 - 26 tahun
dan 45 - 51 tahun lebih sensitif terhadap bayi yang imut dibanding para
pria. Wanita berusia 53 - 60 tahun tidak terlalu terkesan dengan
keimutan bayi, sama halnya pada pria.
Karena menyadari bahwa usia
rata-rata menopause wanita di Inggris adalah 51 tahun, para peneliti
menguji apakah menopause lah yang menyebabkan para wanita tua kehilangan
sensitifitasnya terhadap keimutan bayi.
Ternyata memang benar.
Wanita premenopause lebih peka terhadap keimutan bayi dibanding wanita
yang telah mencapai menopause. Wanita peminum pil KB yang dapat
meningkatkan kadar hormon reproduksi juga ternyata lebih peka terhadap
bayi yang imut dibanding wanita yang tidak minum.
Para peneliti
kemudian menemukan bahwa makin banyak kadar estrogen dan progesteron
yang dimiliki seorang, makin baik pula kemampuannya dalam mendeteksi
perbedaan halus yang menentukan keimutan bayi. Oleh karena itu, wanita
pada usia subur lebih sensitif terhadap keimutan bayi.
"Kami
menggunakan manipulasi gambar komputer untuk mengembangkan tes persepsi
perubahan halus pada wajah bayi. Kami menemukan bahwa wanita muda dan
wanita menjelang menopause lebih sensitif terhadap perbedaan keimutan
bayi dibandingkan pria. Tingkat sensitifitas terhadap keimutan naik
turun sesuai kadar hormon reproduksi wanita," kata peneliti seperti
dilansir Discover Magazine, Kamis (16/8/2012).
Penelitian
sebelumnya menemukan keimutan bayi berfungsi membuat orang dewasa lebih
peduli dan sayang kepada bayi yang membutuhkan perawatan. Namun para
peneliti masih belum tahu mengapa wanita pada usia subur dan menjelang
menopause lebih peka terhadap keimutan bayi. Penelitian ini tidak
menyimpulkan bahwa wanita yang peka terhadap keimutan bayi lebih enggan
mengasuh bayi yang kurang imut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar